Mari Bersama
Mencerahkan Diri

Data dan Penskalaan

JENIS DATA KUANTITATIF, PENGUKURAN DAN INSTRUMENNYA

 

           Ilmu pengetahuan berkomunikasi dengan realitas melalui konsep-konsep, sehingga apabila konsep, baik tunggal maupun yang berhubungan, mau diteliti maka diperlukan operasionalisasi agar konsep/variabel yang menjadi fokus perhatian dapat diamati dan diobservasi, sesuatu yang dapat diobservasi, baik secara langsung ataupun tidak langsung, juga bermakna dapat diukur (Measurable), oleh karena itu pengukuran menjadi penting dalam kaitannya dengan penelitian khususnya penelitian kuantitatif.
           Pengukuran tidak bisa dilakukan secara sembarangan, sebab memerlukan keterkaitan/keselarasan antara konsep dengan pelaksanaan penelitian serta kehati-hatian terhadap kesalahan pengukuran (Measurement error) yang dapat menjadi ancaman bagi keabsahan suatu penelitian. Dalam suatu penelitian sosial, menurut Sofian Effendi, proses pengukuran adalah rangkaian dari empat aktivitas, yakni :
  1. Menentukan dimensi konsep penelitian
  2. Rumusan ukuran untuk masing-masing dimensi (pertanyaan- pertanyaan yang relevan dengan dimensi)
  3. Tentukan tingkat ukuran yang akan digunakan (Nominal, Ordinal, Interval, Rasio)
  4. Tentukan tingkat kesahihan dan keajegan dari alat pengukur 
           Secara sederhana dapat juga dikatakan bahwa untuk melakukan pengukuran, maka peneliti perlu menentukan konsep/variabel yang akan diteliti, menentukan indikator-indikator dari variabel tersebut, menentukan item-item untuk pengukuran sesuai dengan indikator masing-masing, dan kemudian melakukan pengujian atas kesahihan (validitas) dan keajegan (reliabilitas) alat ukur tersebut (Instrumen Penelitian).
         Meskipun seorang peneliti berusaha secermat mungkin, namun terjadinya kesalahan dalam pengukuran masih mungkin, sehingga diperlukan pemahaman tentang kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran. Terdapat dua tipe kesalahan dalam pengukuran yaitu Random error yakni ketidak ajegan (unreliability) pengukuran dimana pengulangan pengukuran menghasilkan hasil yang berbeda, hal ini terjadi apabila pengacakan sampel kurang representatif atau karena ukuran sampel yang terlalu kecil dan Non-random error yakni ketidak validan (invalidity) atau bias dalam pengukuran dimana instrumen pengukuran tidak mengukur apa yang seharusnya diukur. Penelitian yang baik adalah penelitian yang menggunakan pengukuran dengan menghilangkan atau paling tidak mengurangi kedua tipe kesalahan tersebut.   
           Dalam analisis data yang menggunakan statistik pengukuran adalah hal yang sangat penting karena merupakan sumber angka-angka yang dipakai dalam analisa statistik, disamping sebagai pedoman dalam penentuan teknik analisis statistik yang dapat dipergunakan. Secara umum pengukuran diartikan sebagai proses membedakan sesuatu (The process by which things are differentiated), sedang secara operasional, Pengukuran adalah penerapan aturan bilangan pada obyek atau fenomena tertentu, dalam suatu penelitian Kuantitatif pengukuran dikenakan pada variabel yang kita teliti. Dengan kata lain pengukuran bermakna menandai nilai-nilai suatu variabel dengan tanda bilangan tertentu secara sistematis.
           Memang diakui bahwa apabila hasil suatu pengukuran dapat dikuantifikasikan serta dinyatakan dalam bentuk angka, ambiguitas bahasa akan sangat berkurang (seperti “badan si Faqih cukup tinggi” dengan “Tinggi badan Faqih 171cm"), namun demikian dalam proses pengukuran tidak selamanya harus menggunakan penandaan dalam bentuk angka (kuantifikasi), yang penting tergambar suatu perbedaan posisi yang satu dengan yang lain dalam suatu kontinum nilai. ketentuan penerapan nilai suatu variabel dengan tanda bilangan atau lambang disebut skala (Levels of Measurement). Dalam hubungan ini terdapat beberapa skala pengukuran (Terkadang disebut jenis data atau tipe variabel berdasarkan tingkat pengukuran) yang perlu dipahami oleh seorang peneliti
  1. Skala Nominal. Adalah skala yang hanya mendasarkan pada pengelompokan atau pengkategorian peristiwa atau fakta dan apabila menggunakan notasi angka hal itu sama sekali tidak menunjukan perbedaan kuantitatif melainkan hanya menunjukan perbedaan kualitatif. Banyak variabel dalam penelitian sosial menggunakan skala nominal seperti Agama, Jenis kelamin, Tempat lahir, asal sekolah dsb. Adapun ciri dari skala nominal adalah : (1) kategori data bersifat mutually exclusive (saling memisah), (2) Kategori data tidak mempunyai aturan yang logis (bisa sembarang).
  2. Skala Ordinal. Adalah pengukuran dimana skala yang dipergunakan disusun secara terurut dari yang rendah sampai yang tinggi menurut suatu ciri tertentu, namun antara urutan (ranking) yang satu dengan yang lainnya tidak mempunyai jarak yang sama, skala ordinal banyak dipergunakan dalam penelitian sosial dan pendidikan terutama berkaitan dengan pengukuran kepentingan, persepsi, motivasi serta sikap, apabila mengukur sikap responden terhadap suatu Kebijakan pendidikan , responden dapat diurutkan dari mulai Sangat setuju (1), Setuju (2), Tidak berpendapat (3), Kurang Setuju (4), dan Tidak setuju (5), maka angka-angka tersebut hanya sekedar menunjukan urutan responden, bukan nilai untuk variabel tersebut. Adapun ciri dari skala ordinal adalah : (1) kategori data bersifat saling memisah, (2) kkategori data mempunyai aturan yang logis, (3) kategori data ditentukan skalanya berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya.
  3. Skala Interval. Adalah skala pengukuran dimana jarak satu tingkat dengan tingkat lainnya sama, oleh karena itu skala interval dapat juga disebut skala unit yang sama (equal unit scale), contoh yang sangat dikenal adalah temperatur. Adapun ciri-ciri skala interval adalah : (1) kategori data bersifat saling memisah, (2) kategori data mempunyai aturan yang logis, (3) kategori data ditentukan skalanya berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya, (4) perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori, (5) angka nol hanya menggambarkan suatu titik dalam skala (tidak punya nilai Nol absolut).
  4. Skala Rasio. Skala interval yang benar-benar memiliki nilai nol mutlak disebut skala rasio, dengan demikian skala rasio menunjukan jenis pengukuran yang sangat jelas dan akurat (precise). Jika kita memiliki skala rasio, kita dapat menyatakan tidak hanya jarak yang sama antara satu nilai dengan nilai lainnya dalam skala, tapi juga tentang jumlah proporsional karakteristik yang dimiliki dua obyek atau lebih, dan contoh untuk skala ini adalah uang. Adapun ciri-ciri dari skala rasio adalah : (1) kategori data bersifat saling memisah, (2) kategori data mempunyai aturan yang logis, (3) kategori data ditentukan skalanya berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang dimilikinya, (4) perbedaan karakteristik yang sama tergambar dalam perbedaan yang sama dalam jumlah yang dikenakan pada kategori, (5) angka nol menggambarkan suatu titik dalam skala yang menunjukan ketiadaan karakteristik (punya nilai Nol absolut).
            Bagi seorang peneliti pemahaman secara tepat tentang skala pengukuran sangat penting karena dua alasan : Pertama, tiap skala pengukuran memberikan jumlah informamsi yang berbeda, skala rasio memberi informasi lebih banyak dibanding interval, interval lebih banyak dibanding ordinal, dan ordinal memberi informasi lebih banyak dibanding skala pengukuran nominal, oleh karena itu, jika memungkinkan peneliti sebaiknya menggunakan skala pengukuran yang dapat memberikan informasi paling maksimum yang diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Kedua, beberapa jenis prosedur analisa statistik tidak tepat untuk dipergunakan pada skala pengukuran yang berbeda, untuk itu kejelasan penentuan skala pengukuran akan menentukan jenis analisis statistik yang bagaimana yang akan dipergunakan.

 

 

1. Penentuan Indikator/Konsep Empiris

Konsep merupakan konstruksi teoritis yang dimaksudkan untuk mengorganisasikan realitas dan bukan sesuatu yang punya gambaran visual, konsep mempunyai gradasi yang berbeda-beda dalam hal kesulitan dan kemudahannya untuk diukur tergantung pada tingkatan abstraksi, konsep Tinggi, berat merupakan contoh yang mudah diukur, namun bagaimana halnya mengukur konsep yang punya tingkat abstraksi tinggi seperti : Motivasi, Minat , IQ, EQ, dan konsep lain yang sejenis, sudah barang tentu untuk konsep-konsep seperti itu pengukurannya tidak sederhana karena memerlukan upaya mengempiriskan konsep-konsep tersebut agar dapat dilakukan pengukuran.
Dengan demikian agar suatu konsep dapat diukur maka diperlukan pengetahuan tentang unsur-unsur yang dapat dijadikan petunjuk (indikator) terhadap suatu konsep, oleh karena itu konsep dan indikator merupakan dua hal yang penting dalam suatu penelitian, keduanya harus menunjukan validasi konsep yaitu penyimpulan yang valid atas suatu konsep (yang tidak dapat diobservasi) atas dasar indikator (yang dapat diobservasi).
Seorang peneliti tidak meneliti konsep secara langsung melainkan secara tidak langsung melalui pengumpulan data sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditentukan, untuk itu indikator harus benar-benar dapat menggambarkan konsepnya, dalam hubungan ini langkah penting dalam penentuan indikator adalah dengan pengkajian definisi dan teori yang berkaitan dengan konsep tersebut . Penentuan indikator dapat dilakukan melalui :
  1. Penelusuran akibat-akibat dari suatu konsep, hasilnya disebut Reflective Indicator/Reflector/Effect indicator ; dan
  2. Penelusuran sebab-sebab dari suatu konsep, hasilnya disebut Formative indicator/Cause indicator.
         Cara mana saja yang dipergunakan tidaklah menjadi soal yang penting indikator-indikator yang dipilih/ditentukan harus merupakan representasi dari konsep-konsep yang menjadi fokus penelitian.
Karena konsep/variabel tidak dapat diukur langsung, maka langkah penentuan satuan-satuan yang bisa diobservasi menjadi sangat penting dalam suatu penelitian, dalam hubungan ini terdapat dua cara dalam proses tersebut yaitu :
  1. Melalui penjabaran konsep dari mulai Konsep Teori, Konsep Empiris, Konsep Analitis, dan Konsep Operasional.
  2. Melalui penelusuran dari Konsep, Dimensi, Indikator, dan item pertanyaan/pernyataan.

2. Pengukuran sikap

         Di dalam penelitian Sosial dan Pendidikan dengan pendekatan Kuantitatif, disamping pengukuran dengan menggunakan bentuk Test, seorang peneliti akan banyak menghadapi penggunaan pengukuran berbentuk Skala, baik dengan metode Thurstone, Bogardus ataupun Likert yang umumnya dikenal dengan Skala Sikap, hal ini tidak lain karena dalam bidang pendidikan banyak sekali Personological variable yang sulit, bahkan tidak dapat diobservasi secara langsung melainkan melalui penyimpulan dari indikasi tidak langsung (seperti Konsep diri, bakat, motivasi belajar).
A. Pengertian Sikap
Sikap (attitude) merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak terhadap obyek tertentu, para akhli telah memberikan definisi yang bervariasi terhadap konsep sikap, Thurstone sebagai pelopor dalam pengukuran sikap mendefinisikan sikap sebagai berikut :
  • attitude… “the sum total of man’s inclinations and feelings, prejudice and bias, preconceived notion, ideas, fears, threats, and conviction about any specified topic” (definisi tahun 1928)
  • attitude is the affect for or against a psychological object (definisi tahun 1931)
  • attitude…”the intensity of positive or negative affect for or against a psychological object” (definisi tahun 1946)
            Definisi-definisi tersebut oleh Daniel J. Mueller dirumuskan kembali sebagai berikut "Attitude is : (1) Affect for or against (2) Evaluation of (3) Like or dislike (4) Positiveness or negativeness toward a psychological object".
              Pengertian di atas menunjukan bahwa suatu sikap merupakan suatu perasaan,penilaian, kesukaan atau ketidak sukaan, kepositipan atau kenegatipan terhadap suatu obyek psikologis tertentu. Sementara itu Bogardus mendefinisikan Sikap sebagai a tendency to act toward or against some environmental factor.
B. Karakteristik Sikap
Dalam bukunya Principles of Educational and Psychological Measurement and Evaluation, G. Sax menyatakan bahwa terdapat beberapa karakteristik dari sikap yaitu :
  • Arah. Artinya sikap terpilah pada dua arah (kesetujuan atau ketidaksetujuan; mendukung atau tidak mendukung; memihak atau tidak memihak)
  • Intensitas. Artinya kedalaman atau kekuatan sikap , kesamaan arah bisa menunjukan intensitas yang berbeda.
  • Keluasan. Artinya kesetujuan atau ketidaksejuan dapan mencakup aspek keseluruhan atau hanya aspek bagian yang sangat spesifik dari suatu obyek sikap
  • Konsistensi. Yaitu kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responsnya terhadap obyek sikap dimaksud.
C. Dimensi Sikap
  • Dimensi Kognitif (Keyakinan). Ekspresi keyakinan terhadap suatu obyek sikap tertentu
  • Dimensi Afektif (perasaan). Ekspresi perasaan secara langsung terhadap obyek sikap tertentu
  • Dimensi Konatif (kecenderungan prilaku). Pernyataan maksud atau preferensi prilaku berkaitan dengan obyek tertentu, baik prilaku personal maupun preferensi prilaku untuk kegiatan sosial.
Contoh Item pernyataan :
Keyakinan :   Biaya pendidikan di UIN Sunan Kalijaga  tidak memberatkan
Perasaan   :   Saya menyukai lingkungan belajar di UIN Sunan Kalijaga
Konatif        :  Saya memilih kuliah di UIN Sunan Kalijaga jika sudah waktunya
D. Kriteria Penyusunan Pernyataan Skala Sikap
Menurut Prof. Mar’at dalam bukunya Sikap Manusia, Perubahan dan Pengukurannya, kriteria informal untuk mengedit pernyataan yang digunakan untuk mengkonstruksikan skala sikap adalah :
  1. Menolak pernyataan yang dihubungkan dengan masa lalu daripada saat sekarang
  2. Menolak pernyataan yang faktual atau yang baik untuk diinterpretasikan sebagai faktual
  3. Menolak pernyataan yang dapat diinterpretasikan lebih dari satu
  4. Menolak pernyataan yang tidak relevan kepada obyek psikologi
  5. Menolak pernyataan yang dapat diterima oleh hampir semua orang atau bahkan tidak satupun yang menerima
  6. Memilih pernyataan yang dianggap memiliki pilihan dari skala efek mengenai minat
  7. Menjaga bahasa yang sederhana dari pernyataan untuk jelas dan langsung (tidak berbelit-belit)
  8. Pernyataan haruslah pendek kurang lebih dua puluh kata
  9. Pernyataan haruslah memiliki suatu pemikiran
  10. Penolak pernyataan yang mengandung kata-kata : semua; selalu; tidak satupun; tidak pernah; yang sering menimbulkan ketidakjelasan
  11. Kata-kata : hanya, benar/tepat, hampir, dan kata-kata lain yang hampir sama artinya harus digunakan dengan hati-hati dalam menulis pernyataan
  12. Bila mungkin pernyataan harus dalam bentuk kalimat yang sederhana sehingga tidak merupakan bentuk yang kompleks dan berlebihan
  13. Menolak penggunaan kata-kata yang tidak mempunyai arti
  14. Menolak penggunaan negatif rangkap.
E. Contoh Skala Sikap
Untuk lebih memperoleh gambaran tentang bagaimana pakar membuat Skala Sikap, berikut ini akan dikemukakan dua cara masing-masing mengacu pada Skala Thurstone dan Likert

1. Method of equal appearing Interval (Thurstone)

Metode ini dikemukakan oleh Edward pengarang Buku Technique of attitude scale construction. Menurut Mar’at cara ini biasanya digunakan bila pernyataan yang akan diskala adalah cukup banyak, sehingga sukar untuk dilakukan penilaian secara perbandingan, sementara itu Saifuddin Azwar menyatakan bahwa cara penskalaan ini mengacu pada model skala Thurstone yang mengacu pada pendekatan penskalaan Stimulus serta penilaiannnya dilakukan oleh kelompok penilai tertentu yang diberi tugas membaca dengan seksama setiap pernyataan untuk kemudian memberikan penilaian atau perkiraan tingkat favorable atau tidaknya suatu pernyataan dalam suatu Psychological Continuum.
Psychological Continuum tersebut disusun dalam bentuk abjad dengan asumsi bahwa jarak/interval antara hurup dengan huruf setara mulai dari yang tidak Favorable sampai yang Favorable dimulai dari abjad A sampai K, dimana abjad F merupakan bagian yang netral, dalam prakteknya yang tidak Favorable bernilai 1 dan yang Favorable bernilai 11, akan tetapi pilihan terhadap suatu nilai tertentu tidak lantas dijadikan nilai skala suatu item tertentu melainkan sebagai bahan untuk diolah kembali.

2. Method of Summated Rating (Likert)

Metode ini merupakan metode penskalaan pernyataan sikap dengan
menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan skala serta tidak menggunakan kelompok penilai. Dalam skala Likert, kuantifikasi dilakukan dengan menghitung respon kesetujuan atau ketidaksetujuan (dalam suatu kontinum) terhadap obyek sikap tertentu.
Skala model Likert, kategori respon terdiri dari lima, mulai dari Sangat setuju, Setuju, Tidak pasti/tidak memutuskan, tidak setuju, sangat tidak setuju, bila pernyataan itu sifatnya posistif diberi skor 5,4,3,2,1, dan bila pernyataan negatif diberi skor 1,2,3,4,5. Adapun prosedur konstruksi skala model Likert adalah :
  1. Identifikasi obyek-obyek sikap serta jelaskan secara spesifik
  2. Kumpulkan item-item opini (30 atau lebih) tentang obyek sikap. Semua item harus menyatakan sesuatu yang positif atau negatif
  3. Uji cobakan item-item tersebut pada sekelompok responden, tiap responden menunjukan suatu tingkat persetujuan untuk tiap item
  4. Beri skor untuk tiap responden, kemudian jumlahkan skor tersebut untuk tiap responden
  5. Korelasikan skor tiap item dengan skor total untuk tiap responden
  6. Hilangkan item yang korelasinya tidak signifikan atau yang korelasinya negatif. Perhatikan keseimbangan antara item positif dan negatif.
  7. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan maka sebagai hasilnya akan diperoleh sejumlah pernyataan untuk mengukur sikap yang dapat dipercaya untuk dapat digunakan dalam penelitian, karena hanya item yang signifikan saja yang dipergunakan dalam instrumen penelitian.
F. Konversi Nilai Skala
          Skala sikap yang diberi bobot nilai 0 – 4 atau 1 – 5 sesuai dengan alternatif respon pada dasarnya merupakan skala yang bernilai Ordinal atau pemeringkatan ,sebab responden diminta merespon/menjawab sesuai dengan kecenderungan sikapnya untuk kemudian diberi kode/nilai peringkat oleh peneliti, namun demikian terdapat para Pakar yang menganggapnya sebagai Skala Interval sehingga memungkinkan pengolahan datanya dengan analisis Statistik Parametrik. Terlepas dari kontroversi tersebut, mereka yang berpendapat bahwa skala sikap bernilai ordinal mengajukan suatu cara untuk mengkonversi nilai skala tersebut menjadi bernilai Interval dengan menempatkan masing-masing nilai skala dalam kelompoknya pada suatu distribusi normal, sehingga jarak nilai menjadi sama. Dengan cara ini penentuan nilai skala dilakukan dengan memberi bobot dalam satuan deviasi normal bagi setiap kategori respon pada suatu kontinum psikologis.
           Pengkonversian nilai skala dilakukan pada seluruh pernyataan yang dipergunakan dalam skala, bila yang diteliti 3 variabel dengan banyak item pernyataan 30 untuk tiap instrumen, maka penghitungan konversi dilakukan sebanyak 90 kali (90 Item), jadi banyaknya penghitungan konversi ditentukan oleh banyaknya item pernyataan dalam suatu skala. Sebagai contoh, kita ambil satu item pernyataan Positif dengan nilai skala mulai dari 0 sampai dengan 4 (skala 5), dengan jumlah responden 200 orang (contoh 2.1), dan satu item pernyataan negatif dengan nilai skala 1 sampai dengan 4 (skala 4), jumlah responden sebanyak 50 0rang. Dalam kenyataannya, terkadang (bahkan sering) nilai skala konversi (akibat pembulatan) sama dengan nilai skala asal yang ditetapkan berdasarkan judgement, namun karena nilai konversi telah melalui pengolahan maka jelas akan lebih dapat dipertanggungjawabkan bila diperlakukan sebagai data dengan skala pengukuran interval serta dapat dianalisis menggunakan statistik parametrik (sudah tentu ditambah syarat lainnya).

(dari berbagai sumber)